Proyek Alumina Mempawah Fase 2 Mulai Dibangun Awal 2026

Inalum Gaspol Proyek SGAR Mempawah Fase 2 di 2026: Ambisi RI Putus Rantai Impor Aluminium!

MEMPAWAH – PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) resmi mengumumkan percepatan langkah strategis dalam hilirisasi pertambangan nasional. Melalui anak usahanya, PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), Inalum menargetkan konstruksi Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah Fase 2 akan mulai digarap pada tahun 2026 mendatang.

Alumina Mempawah

Langkah ini diprediksi menjadi “game changer” bagi industri logam tanah air, mengingat ketergantungan Indonesia terhadap impor aluminium yang masih sangat tinggi.


Target Tender EPC 2026 dan Operasional 2028

Head of Business Development and Strategy Inalum, Al Jufri, mengonfirmasi bahwa proses lelang Engineering, Procurement, and Construction (EPC) akan segera dibuka pada awal tahun depan.

“Rencana tahun depan kita mulai start tender EPC. Jadi nanti ada Fase 1 sebesar 1 juta ton per tahun, dan di sebelahnya Fase 2 tambahan 1 juta ton lagi. Total kapasitas kita akan mencapai 2 juta ton per tahun,” ujar Al Jufri di Jakarta (18/12/2024).

Meskipun proses Final Investment Decision (FID) sempat bergeser dari target November 2025, saat ini pihak manajemen tengah melakukan finalisasi pendanaan agar proyek ini tetap berjalan sesuai timeline operasional di tahun 2028.


3 Fakta Menarik: Mengapa SGAR Mempawah Fase 2 Sangat Krusial?

Untuk memahami mengapa proyek ini menarik perhatian investor dan pelaku industri, berikut adalah intisari strategisnya:

1. Memutus Rantai Impor 56%

Data menunjukkan bahwa kebutuhan aluminium dalam negeri mencapai 1,2 juta ton per tahun. Sayangnya, hingga 2023, Inalum baru mampu memasok 44% kebutuhan tersebut, sementara 56% sisanya masih bergantung pada impor. SGAR Fase 2 adalah kunci untuk mencapai kemandirian industri.

2. Integrasi Hulu ke Hilir yang Solid

Proyek ini merupakan bukti nyata sinergi BUMN di bawah MIND ID.

  • Hulu: Pasokan bijih bauksit (6 juta ton/tahun) dijamin oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

  • Antara: Diolah menjadi Alumina oleh PT BAI di Mempawah.

  • Hilir: Dikirim ke Kuala Tanjung untuk diolah menjadi Aluminium oleh Inalum.

3. Nilai Investasi Jumbo

Dengan estimasi total investasi mencapai US$ 1,7 miliar (setara Rp 26 triliun lebih untuk dua fase), proyek ini menjadi salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan dampak ekonomi multiplier yang besar bagi wilayah Kalimantan Barat.


Menuju Produksi 900.000 Ton Aluminium

Ekspansi alumina ini bukan tanpa alasan. Inalum memiliki peta jalan besar untuk meningkatkan kapasitas produksi aluminiumnya dari 275.000 ton saat ini menuju target ambisius 900.000 ton per tahun. Tanpa pasokan alumina domestik yang stabil dari SGAR Mempawah, target tersebut mustahil tercapai secara efisien.

“Salah satu kelebihan kita adalah offtake bauksit yang didukung penuh oleh sister company. Ini memberikan kepastian pasokan yang tidak dimiliki pesaing global lainnya,” tambah Al Jufri.


Kesimpulan: Masa Depan Industri Logam RI

Dengan beroperasinya SGAR Fase 1 yang telah diresmikan oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo pada September 2024 lalu. Indonesia kini berada di jalur yang tepat untuk menjadi pemain utama aluminium global. Jika Fase 2 berjalan mulus di 2028, Indonesia tidak hanya sekadar mengekspor tanah dan batu, tetapi mengekspor nilai tambah yang berkali-kali lipat lebih tinggi.

kadobet

marocafrik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*