Sulap Waste to Energy Bisa Suplai 200 Mega Watt

Bukan Sekadar Listrik! Proyek Waste to Energy Jadi Senjata Pamungkas Prabowo Atasi Darurat Sampah

JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menegaskan bahwa proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau Waste to Energy (WTE) bukan lagi soal mengejar target angka di atas kertas, melainkan sebuah misi penyelamatan lingkungan.

Waste to Energy

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, mengungkapkan bahwa meskipun kapasitas listrik yang dihasilkan mencapai 200 Mega Watt (MW), fokus utamanya tetap pada pembersihan tumpukan sampah yang kian menggunung di berbagai daerah.

Solusi Lingkungan di Atas Ambisi Energi

Dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Senin (26/1/2026), Hanif menjelaskan bahwa kontribusi 200 MW memang relatif kecil dibandingkan total kapasitas jaringan listrik nasional milik PLN (on-grid). Namun, nilai strategisnya terletak pada efektivitas pengolahan limbah.

“Arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto sangat jelas: ini bukan masalah energi semata, ini masalah lingkungan. Pelaksanaannya ditangani penuh dalam kerangka Waste to Energy untuk menyelesaikan krisis sampah,” ujar Hanif.


Bedah Skema Ekonomi: Tarif Flat 20 Sen

Untuk menjaga keberlanjutan proyek ini, pemerintah telah menetapkan formula ekonomi yang menarik bagi investor sekaligus menjamin efisiensi:

  • Tarif Jual Beli Listrik: Ditetapkan flat sebesar 20 sen dolar AS per kWh.

  • Syarat Kapasitas: Harga ini berlaku khusus untuk fasilitas yang mampu mengelola minimal 1.000 ton sampah per hari.

Kebijakan ini diharapkan mampu menarik minat pengembang teknologi hijau untuk ikut serta dalam membedah persoalan sampah di kota-kota besar Indonesia.


Mengapa Waste to Energy Sangat Krusial Saat Ini?

Selain mengatasi tumpukan sampah, ada beberapa alasan mengapa proyek ini menjadi prioritas nasional:

  1. Reduksi Gas Metana: Sampah di TPA menghasilkan gas metana yang 25 kali lebih berbahaya bagi atmosfer dibanding CO2. WTE memutus siklus emisi ini.

  2. Ekonomi Sirkular: Mengubah beban biaya (sampah) menjadi aset fungsional (listrik).

  3. Lahan TPA Terbatas: Kota-kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya sudah kehabisan lahan untuk menampung sampah baru secara konvensional (landfill).

Tantangan Teknologi: Bukan Sekadar Membakar

Presiden Prabowo menekankan agar teknologi yang digunakan benar-benar efektif dan ramah lingkungan. Tantangan utamanya adalah memastikan emisi dari proses pembakaran sampah (insinerasi) tetap berada di bawah ambang batas aman dan tidak menimbulkan polusi udara baru.

rtp kera4d gacor

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*