Jejak “Perampok Abad Ini”: Kisah Ronald Biggs yang Sempat Bikin BIN Indonesia Kelimpungan
Jakarta – Dunia kriminal internasional pernah diguncang oleh aksi nekat sekelompok pria di Inggris pada dekade 60-an. Nama Ronald Arthur Biggs seketika menjadi legenda sekaligus buronan paling dicari setelah terlibat dalam “The Great Train Robbery” atau Perampokan Besar Kereta Api. Namun, di balik pelariannya yang mendunia, terselip kisah unik di mana intelijen Indonesia sempat “tergocek” oleh identitas seorang pendeta.
Sinopsis Perampokan Terbesar dalam Sejarah Inggris
Pada 8 Agustus 1963, sebuah kereta pengangkut uang milik Royal Mail dibajak di jembatan kereta api Bridego, Buckinghamshire. Biggs dan kawan-kawannya berhasil menggondol 120 karung uang tunai senilai £2,6 juta.
Jika dikonversi ke nilai mata uang saat ini, angka tersebut mencapai £50 juta atau sekitar Rp848 miliar. Sebuah nominal fantastis yang menempatkan Biggs sebagai salah satu “raja” perampok di masanya.
Drama Pelarian dari Penjara “High Security” Wandsworth
Meski sempat tertangkap pada September 1963 dan dijatuhi vonis 30 tahun, penjara tidak mampu menahan Biggs lebih lama. Belum genap dua tahun mendekam di Penjara Wandsworth yang dikenal memiliki keamanan super ketat, Biggs melakukan aksi pelarian yang dramatis.
Pada 9 Juli 1965, tepat pukul 15.15, Biggs bersama tiga narapidana lainnya berhasil menjebol pintu penjara dan menghilang ke keramaian London. Pelarian ini menjadi tamparan keras bagi kepolisian Inggris dan memulai pengejaran lintas benua yang berlangsung selama puluhan tahun.
Saat Intelijen Indonesia (BIN) Ikut “Memburu” Biggs
Pelarian Biggs menyisakan rumor yang sampai ke telinga otoritas Indonesia. Pada Maret 1970, Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN/BIN) menerima informasi sensitif mengenai pria bernama belakang “Biggs” yang masuk ke Indonesia dari Australia.
Berdasarkan catatan Kenneth J. Conboy dalam buku Intel: Inside Indonesia’s Intelligence Service, intelijen Indonesia melakukan pengintaian intensif selama tiga minggu. Namun, hasilnya justru mengundang tawa sekaligus lega.
-
Identitas Sasaran: Pria bernama “Biggs”.
-
Fakta di Lapangan: Pria tersebut ternyata Donald Biggs, seorang pendeta asal Amerika Serikat berusia 56 tahun.
-
Hasil Akhir: Salah identifikasi; pengintaian dihentikan seketika.
Brasil: Surga Persembunyian Ronald Biggs
Sementara BIN memantau sang pendeta, Ronald Biggs yang asli ternyata sudah mendarat di Brasil. Ia memilih Brasil bukan tanpa alasan. Kala itu, Brasil tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Inggris.
Selama di Brasil, Biggs menjadi selebritas lokal. Ia bahkan sempat merekam lagu bersama band punk The Sex Pistols dan menjual merchandise bertanda tangan dirinya kepada para turis yang penasaran dengan sosok sang perampok legendaris.
Akhir Perjalanan Sang Legenda
Setelah 36 tahun hidup dalam pelarian, pada tahun 2001, Biggs yang sudah renta dan sakit-sakitan memutuskan kembali ke Inggris secara sukarela. Ia menyerahkan diri demi mendapatkan perawatan medis di tanah kelahirannya.
Meski sempat dipenjara kembali, ia akhirnya dibebaskan pada 2009 karena alasan kemanusiaan (kesehatan). Biggs meninggal dunia pada tahun 2013, di tahun yang sama dengan wafatnya Donald Biggs—pendeta yang pernah dikira sebagai dirinya oleh intelijen Indonesia.
Intisari Berita (SEO Friendly)
| Kategori | Detail Informasi |
| Tokoh Utama | Ronald Arthur Biggs |
| Kasus Utama | Great Train Robbery (1963) |
| Nilai Kerugian | £2,6 Juta (Setara Rp848 Miliar saat ini) |
| Lokasi Pelarian | Belgia, Prancis, Australia, Brasil |
| Keterlibatan BIN | Salah identifikasi dengan Pendeta Donald Biggs (1970) |
| Keyword Utama | Ronald Biggs, Perampokan Kereta Inggris, Sejarah BIN, Buronan Internasional |
